Apoteker (never ending story)

I'm Proud to be Pharmacist...

Untuk sampai pada kalimat itu, saya harus melalui yang namanya proses 'bertanya setiap waktu'
Mengapa saya bisa terdampar di jurusan farmasi ? (pertanyaan pertama saat saya berada di laboratorium farmasetika)
Mengapa resep harus pake bahasa latin? (pertanyaan kedua saat melihat resep di jurnal praktikum)
Mengapa perhitungan dosisnya harus sepanjang ini dan pakai istilah pengenceran pulak ? (Pertanyaan ketiga saat mulai mengerjakan resep)
Mengapa salah ambil bahan langsung dikasih nilai error? (pertanyaan keempat saat teman di hadapanku dinyatakan tidak lulus)
Dan berjuta pertanyaan selanjutnya yang menghiasi lika-liku perkuliahan..

Hanya sesama farmasis yang tahu dan mengerti akan penderitaan menimba disiplin ilmu yang satu ini.  Aku ingat ketika sedang menjalani praktek profesi di Rumah Sakit, ketika pasien sepi dan saya asyik menulis data-data laporan yang harus diselesaikan segera, asisten apoteker senior yang bekerja di depo itu bercerita kepada sesama teman asistennya..(anggap saja saya manusia transparan),
"Eh...masih ko ingat waktu di SMF (sekolah menengah farmasi) ki dulu..deh betul-betul di'..perjuangan"
Lalu temannya menjawab..."dehh..iyo. betul-betul itu sekolah ta' dulu bagaikan neraka. Geriting tangan menulis laporan. Belum pi lagi itu resep yang diujiankan...mau mentong tidak na kasi lulus ki'"
"iyo...luar biasa memang, itumi ndak mau mi ka lanjut kuliah. ndak sanggup ma'....ampun."
"Kita' dek....lulusan smf ki juga?", tiba-tiba teman kakak itu bertanya padaku
Saya yang sedari tadi memang menguping pembicaraan mereka (budaya kepo telah ada sejak jaman istilahnya belum eksis), spontan menjawab..."bukan kak...saya dari sma biasa. cuma dulu masuk D3 farmasi di bajigau."
"ooh...sama ji tu dek...guruku dosen ta' tonji....pasti berasa neraka juga toh! Bagus itu dek...lanjut ki sampai profesi...semangat nah!"
Makasih (jawab dalam hati sambil senyum 3 jari)

Kalau kau menceritakan hal yang sama kepada orang lain bahkan keluargamu sendiri, mereka hanya akan menganggap kalian telalu berlebihan alias lebay. seringkali saya diomeli di rumah, ketika keluarga datang dan mendapati seisi rumah kotor dan berantakan. lalu mereka akan kompak berkata..."apa bang itu ko bikin...sampe rumah berantakan. kuliah tonji ki dulu tapi masih sempat ji bersih-bersih". Kujawab dalam hati (iya...jurusannya apa dulu...bukan farmasi kan?).
Bagi mahasiswa farmasi...pagi, siang, malam menjadi satu waktu. Salah seorang temanku pernah menangis 'bombay' pagi-pagi karena menyadari bahwa hari sudah pagi dan dia belum tidur sejak semalam karena mengerjakan laporan. Tanggal merah, biru, atau hijau di kalender tidak berpengaruh. Hari minggu pun kita tetap praktikum. Kalau anak jurusan biologi hanya mempelajari biologi, dan anak fisika hanya mempelajari tentang fisika....kami mempelajari semuanya. Bahkan ada mata kuliah bernama 'Kimia Fisika Farmasi'.

Tapi segala kisah sedih yang tak hanya terjadi di hari minggu itu....tidak berakhir sampai disitu. Setelah jadi Apoteker pun...cobaannya luar biasa. Kenapa? tanya budi *ehh
Bayangkan saja...ketika perjuangan habis-habisan sudah dijalani hingga memperoleh gelar itu, lalu bertemu seorang laki-laki tua di pete-pete' yang bilang..."apa itu apoteker...penjual obat ji."..
Waktu itu berasa mau terjun dari atas pete-pete sambil berdoa, semoga saya tak berjodoh dengan anak bapak ini (loh kok ngomongin jodoh...haha..baper niye)
Atau ketika saya sudah menjelaskan aturan minum obat pada pasien berdasarkan resep yang diberikan dokter, kemudian pasiennya kembali ke ruang dokter dan bilang.."dok..bagaimana aturannya ini obat?". (Nyanyi..'sebagai profesiii...yang tak dianggap...aku hanya bisaaa....)
Atau kejadian beberapa hari yang lalu saat ada pasien datang tergopoh-gopoh ke apotek..
"Bu...kasi ka obat cacing ta'.."
"Untuk dewasa bu atau anak-anak?"
"untuk saya...inie batuk-batuk terus ka' baru gatal leher ku. kayaknya ada cacing. makanya saya mau minum obat cacing"
Setelah menahan tawa dan menjelaskan akan kesalahpahamannya...ibu itu hanya diam dan tetap memaksa diberi obat cacing.

Itu hanya sepenggal kisah...dari berpuluh-puluh kisah tak berperasaan lainnya..
Setidaknya...hari ini...di hari apoteker sedunia...ada seorang pasien yang memberi jempol padaku sambil berkata..."wah..biasanya kalau saya beli obat....dikasi saja. Ini dijelaskan aturan minumnya. Bagus di'"
"itu memang tugas saya pak" (sok resmi)

Ini ceritaku...apa ceritamu...??
Untuk teman-teman sejawat utamanya yang baru lulus...ingat sumpahmu...tanamkan dalam diri..bahwa bagaimanapun kelak dunia memperlakukanmu...tetaplah menjadi apoteker profesional (beuh...sok banget gue)

Di Apotek...Ahad..25 September 2016


*nantikan kisah selanjutnya



Popular posts from this blog

Through The Rain

Filosofi Teh

Histeris