Through The Rain
Menapaki usia yang tidak muda lagi.......membuat saya merenung dan menghitung-hitung. Sudah berapa detik yang kulalui dalam hidup ini dan apa yang sudah kulakukan di setiap detik itu. Dalam perenungan itu, terkadang aku menyesali setiap detik yang kugunakan untuk menangis. Yah...aku menangis karena kegagalan. Aku menangis karena kebencian. Aku menangis karena kekecewaan. Tangisan yang tidak hanya setetes dua tetes air mata. Tangisan yang kadang berujung pada habisnya sekotak tissue berisi 500 helai. Mungkin bagi kalian, itu terlalu berlebihan. Aku pun merasa hal yang sama. Sempat terbesit dalam pikiran, mungkin aku menderita bipolar. Tapi tidak...Alhamdulillah, saya masih normal.
Seandainya....setiap waktu yang kuhabiskan untuk menangis itu kugunakan untuk menulis. Mungkin kisah sedih yang tidak hanya terjadi di hari minggu bisa terangkum dalam sebuah novel. Sayangnya, saya terlalu membuang-buang waktu. Padahal, tangisan itu tidak bisa mengubah apapun. Tangisan itu tidak akan pernah bisa mengembalikan yang telah pergi. Tangisan itu bahkan tidak bisa menghapus rasa sakit di hati. Tangisan itu tidak bisa menarik kembali kata-kata menyakitkan yang menyerangku. Tidak sama sekali. Tangisan itu hanya berefek kambuhnya penyakit Sinusitis ku.
Sebenarnya...aku tidak perlu menangis. Untuk apa?. Bukankah Allah selalu menolongku dalam setiap masalah. Tak terhitung berapa kali aku gagal menjadi pribadi yang baik...lalu kemudian Allah kembali mempertemukanku dengan orang-orang baik yang mengajak dalam kebaikan. Ketika orang-orang meremehkan profesiku...tiba-tiba ada yang datang menghampiri. Menyampaikan terima kasih yang tulus karena merasa lebih sehat setelah konsultasi denganku.
Ujian....ah, semua manusia beriman pasti akan diuji bukan?. Sudah berapa kali ujian hidup menderaku...tak terbilang jumlahnya. Bahkan sejak aku masih belum mengerti untuk apa Allah memberi ujian itu. Tapi nyatanya...aku bisa melalui semuanya. Aku masih sehat kini. Masih hidup. Aku sedang tidak dalam kesakitan seperti orang-orang di rumah sakit. Aku tidak perlu merasa ketakutan karena dentuman bom seperti saudara-saudaraku di Palestina. Jadi untuk apa aku menangis? untuk rasa sakit karena di dzalimi? Hei...Allah maha adil. Tanpa kau doakan pun, balasan akan datang pada yang menyakiti. Skenario dari langit itu terlalu indah untuk dirusak oleh tangisan-tangisan tidak penting itu.
Hidup terus berjalan, waktu terus berlalu, dan masa lalu yang kau banggakan itu tidak akan kembali. Jadi, bangunlah dari keterpurukan ini. Tugasku...tugasmu..hanya menjalani dengan sebaik-baiknya. Tak perlu risau dengan semua. Jika hujan kemarin bisa kau lalui dengan senyum sambil menatap langit, maka badai esok pasti bisa kau lewati dengan hati yang lapang. Selalu ada payung kebahagiaan untuk hujan kesedihanmu.
Seandainya....setiap waktu yang kuhabiskan untuk menangis itu kugunakan untuk menulis. Mungkin kisah sedih yang tidak hanya terjadi di hari minggu bisa terangkum dalam sebuah novel. Sayangnya, saya terlalu membuang-buang waktu. Padahal, tangisan itu tidak bisa mengubah apapun. Tangisan itu tidak akan pernah bisa mengembalikan yang telah pergi. Tangisan itu bahkan tidak bisa menghapus rasa sakit di hati. Tangisan itu tidak bisa menarik kembali kata-kata menyakitkan yang menyerangku. Tidak sama sekali. Tangisan itu hanya berefek kambuhnya penyakit Sinusitis ku.
Sebenarnya...aku tidak perlu menangis. Untuk apa?. Bukankah Allah selalu menolongku dalam setiap masalah. Tak terhitung berapa kali aku gagal menjadi pribadi yang baik...lalu kemudian Allah kembali mempertemukanku dengan orang-orang baik yang mengajak dalam kebaikan. Ketika orang-orang meremehkan profesiku...tiba-tiba ada yang datang menghampiri. Menyampaikan terima kasih yang tulus karena merasa lebih sehat setelah konsultasi denganku.
Ujian....ah, semua manusia beriman pasti akan diuji bukan?. Sudah berapa kali ujian hidup menderaku...tak terbilang jumlahnya. Bahkan sejak aku masih belum mengerti untuk apa Allah memberi ujian itu. Tapi nyatanya...aku bisa melalui semuanya. Aku masih sehat kini. Masih hidup. Aku sedang tidak dalam kesakitan seperti orang-orang di rumah sakit. Aku tidak perlu merasa ketakutan karena dentuman bom seperti saudara-saudaraku di Palestina. Jadi untuk apa aku menangis? untuk rasa sakit karena di dzalimi? Hei...Allah maha adil. Tanpa kau doakan pun, balasan akan datang pada yang menyakiti. Skenario dari langit itu terlalu indah untuk dirusak oleh tangisan-tangisan tidak penting itu.
Hidup terus berjalan, waktu terus berlalu, dan masa lalu yang kau banggakan itu tidak akan kembali. Jadi, bangunlah dari keterpurukan ini. Tugasku...tugasmu..hanya menjalani dengan sebaik-baiknya. Tak perlu risau dengan semua. Jika hujan kemarin bisa kau lalui dengan senyum sambil menatap langit, maka badai esok pasti bisa kau lewati dengan hati yang lapang. Selalu ada payung kebahagiaan untuk hujan kesedihanmu.