Filosofi Teh
Penikmat novel pasti tahu "Filosofi Kopi". Setahun kemarin, judul ini menjadi booming karena dibuat versi filmnya. Saya pribadi belum pernah nonton. Selain karena di tempatku berada sekarang belum ada bioskop dan lebih asyik nonton di rumah....film yang diangkat dari cerita novel biasanya mengecewakan. Seperti beberapa tahun silam, ketika novel Ayat-ayat cinta berhasil membuatku terhipnotis untuk melahapnya dalam sehari namun membuatku kecewa dalam hitungan jam ketika menonton filmnya. Endingnya jauh beda. Bisa membuat salah tafsir bagi yang hanya menonton film dan enggan membaca buku. Anehnya, si penulis mau-mau saja tulisannya diubah begitu.
Kembali lagi ke Filosofi kopi...
Saya akhirnya membaca novel tersebut ketika menemukan tautan untuk mengunduhnya secara gratis (untuk mental gratisanku...maaf, masih dalam proses perbaikan. Jangan ditiru !). Ternyata novel itu bukan tentang filosofi kopi seorang, tetapi kumpulan prosa karya Dewi Lestari alias Dee. Filosofi kopi ternyata hanya sebuah cerita pendek tentang obsesi seseorang pada kopi. Saya yakin versi filmnya pasti dibuat sedikit 'lebay' mengingat isi ceritanya kurang bumbu percintaan. Dari obsesi seseorang itulah ternyata bisa melahirkan makna berbeda dari setiap penyajian kopi. Ahh....setiap apapun yang diciptakan Allah pasti memiliki makna bukan?
Setelah membaca Filosofi Kopi tersebut, saya jadi rindu berat sama Kopi. Yah, hampir 2 tahun saya tidak bersentuhan dengan minuman sejuta makna ini. Bukan karena sudah tidak suka, tapi Irritable Bowel Syndrome yang kuderita memaksaku untuk menjadi 'pembenci kopi'. Jadilah..aku beralih menjadi penikmat Teh, meskipun sejak dulu aku juga sudah menyukai teh. Jika kopi yang aromanya itu selalu dirindukan bisa memiliki sejuta makna....pasti Teh juga bisa memberi hal yang sama. Maka ijinkan saya untuk ber-filosofi tentang teh.
Teh Tarik (1) :
Kenikmatan hadir melalui proses. Ketika kau menikmati hasil...maka pahitnya proses akan terkenang lewat rasa.
Teh Hijau (2) :
Yang terbaik bagi diri sendiri...kadang tidak disukai.
Teh Celup (3) :
Hal sama yang kau jumpai setiap hari mungkin akan membosankan. Tapi ketika dia hilang...akan dicari kemana-mana
Teh Susu (4) :
Menjadi pelengkap bukan berarti tidak penting. Justru hadirmu yang akan membuat segalanya terasa lebih sempurna.
Teh Melati (5) :
Kenikmatan bukan hanya tentang apa yang dikecap dan dilihat, tetapi juga yang dihirup.
Setidaknya...inilah yang bisa terpikirkan olehku saat menikmati secangkir teh tarik hangat sore ini. Menghalau gejala flu yang mulai menyerang. Jika dirasa tiada arti...mungkin tiap orang bisa membuat makna masing-masing sesuai apa yang dirasakannya.
Sebenarnya...aku tidak sedang mencari makna dalam setiap sajian teh. Karena masih banyak bentuk penyajian teh yang belum ku nikmati dan ku maknai. Aku tak se-mahir Dee, bahkan masih jauh di bawahnya. Aku hanya satu diantara sejuta orang yang bermimpi menjadi penulis handal seperti beliau. Hari ini...aku sedang mencari makna dari sosok karakter "suka memerintah" yang dimiliki sebahagian orang. Terinspirasi dari kalimat perintah yang kubaca di sosial media, yang nadanya membuatku sedikit jengah.
"Suka memerintah"...meski kugali lebih dalam, tak kutemukan nilai positifnya. Karena setelah ditelusuri, pribadi "suka memerintah" ini lahir dari orang yang terbiasa dengan hidup serba dilayani. Dia terbiasa menjalani kehidupan dengan fasilitas yang sudah tersedia, dengan segala hal yang "tinggal pake" tanpa harus bersusah payah. Karakter "suka memerintah" biasanya lahir karena umur yang lebih tua, jabatan yang lebih tinggi, dan uang yang lebih banyak. Namun hal ini bagiku membuat mereka menjadi kurang peka terhadap yang selalu "diperintah". Bagi si mental "suka memerintah"...mudah saja minta dibuatkan ini itu, kesana kemari. Tapi terkadang dia lupa...bahwa yang disuruh juga punya kehidupan sendiri. Yang disuruh juga punya urusan sendiri, keinginan sendiri, dan diri sendiri yang juga harus diurusi. Bukankah...kita semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Memang benar...dan akan selalu menjadi benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tapi dalil ini tidak serta merta dijadikan alasan untuk memanfaatkan orang lain sejadi-jadinya hingga orang tersebut mendzalimi diri sendiri.
Aku mengenal beberapa orang seperti ini. Sebahagian besar lahir dari kebiasaan bergantung pada orang lain bahkan untuk hal paling simpel sekalipun. Meskipun menjadi manusia terbaik (bermanfaat) diinginkan semua individu...tetapi Allah juga melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri. Allah sudah menciptakan kita sebagai yang paling mulia, jadi tak perlu dihinakan dengan melakukan apapun yang diminta orang lain sampai lupa pada kepentingan diri sendiri. Itu sejuta makna yang kupetik dari sebagian ceramah Ust. Nouman Ali Khan. Bahkan dari situ, kutemukan makna sabar yang sesungguhnya.
Bayangkan saja...jika ada orang yang harus bolos dari pekerjaannya demi menuruti si tukang perintah untuk dilayani kepentingannya. Atau ada yang sampai harus jatuh sakit karena terus-menerus menuruti perintah tanpa sempat istirahat. Bahkan ada yang sampai menunda menikah karena menuruti kemauan orang lain untuk mengurusi ini itu yang sejatinya bukan tanggung jawabnya. Itu bentuk kedzaliman kejam yang tidak disadari oleh si tukang perintah.
Hidup itu pilihan...selalu adalah pilihan. Dulu saya pikir, menjadi orang yang selalu disuruh-suruh itu mencerminkan pribadi yang baik. Tapi mengapa kini saya berpikir bahwa itu adalah tindakan bodoh. Menuruti perintah untuk hal-hal tertentu mungkin baik, tapi tidak dalam segala hal. Saya pernah mendengar bahwa, manusia terbaik adalah yang mampu memposisikan dirinya sebagai orang lain ketika bertindak atau mengambil keputusan. Mungkin ini bisa menjadi 'tips' untuk si "suka memerintah". Sebelum menyuruh...posisikan diri anda sebagai yang disuruh. Apakah dia sedang lelah, sedang sakit, sedang pusing dengan sesuatu, atau sedang merencanakan sesuatu. Sehingga kita menjadi lebih peka dan lebih bijak. Setidaknya...jika hal itu bisa kita lakukan sendiri, lakukan saja. Allah tidak akan memberi suatu masalah, pekerjaan, atau tanggung jawab yang tidak bisa kita lakukan.
Bahasan ini sudah begitu jauh nampaknya dari Filosofi Teh. Tapi anggap saja judul itu sebagai pembuka, menarik perhatian barangkali.
Karena hidup ini pilihan, maka kupilih untuk tidak jadi 'tukang perintah' dan tidak jadi manusia bodoh yang seenaknya diperintah. Kalau untuk membuat secangkir teh...kita semua bisa kan tanpa menyuruh orang lain.
Di akhir senja...menjelang isya...
SDj
Kembali lagi ke Filosofi kopi...
Saya akhirnya membaca novel tersebut ketika menemukan tautan untuk mengunduhnya secara gratis (untuk mental gratisanku...maaf, masih dalam proses perbaikan. Jangan ditiru !). Ternyata novel itu bukan tentang filosofi kopi seorang, tetapi kumpulan prosa karya Dewi Lestari alias Dee. Filosofi kopi ternyata hanya sebuah cerita pendek tentang obsesi seseorang pada kopi. Saya yakin versi filmnya pasti dibuat sedikit 'lebay' mengingat isi ceritanya kurang bumbu percintaan. Dari obsesi seseorang itulah ternyata bisa melahirkan makna berbeda dari setiap penyajian kopi. Ahh....setiap apapun yang diciptakan Allah pasti memiliki makna bukan?
Setelah membaca Filosofi Kopi tersebut, saya jadi rindu berat sama Kopi. Yah, hampir 2 tahun saya tidak bersentuhan dengan minuman sejuta makna ini. Bukan karena sudah tidak suka, tapi Irritable Bowel Syndrome yang kuderita memaksaku untuk menjadi 'pembenci kopi'. Jadilah..aku beralih menjadi penikmat Teh, meskipun sejak dulu aku juga sudah menyukai teh. Jika kopi yang aromanya itu selalu dirindukan bisa memiliki sejuta makna....pasti Teh juga bisa memberi hal yang sama. Maka ijinkan saya untuk ber-filosofi tentang teh.
Teh Tarik (1) :
Kenikmatan hadir melalui proses. Ketika kau menikmati hasil...maka pahitnya proses akan terkenang lewat rasa.
Teh Hijau (2) :
Yang terbaik bagi diri sendiri...kadang tidak disukai.
Teh Celup (3) :
Hal sama yang kau jumpai setiap hari mungkin akan membosankan. Tapi ketika dia hilang...akan dicari kemana-mana
Teh Susu (4) :
Menjadi pelengkap bukan berarti tidak penting. Justru hadirmu yang akan membuat segalanya terasa lebih sempurna.
Teh Melati (5) :
Kenikmatan bukan hanya tentang apa yang dikecap dan dilihat, tetapi juga yang dihirup.
Setidaknya...inilah yang bisa terpikirkan olehku saat menikmati secangkir teh tarik hangat sore ini. Menghalau gejala flu yang mulai menyerang. Jika dirasa tiada arti...mungkin tiap orang bisa membuat makna masing-masing sesuai apa yang dirasakannya.
Sebenarnya...aku tidak sedang mencari makna dalam setiap sajian teh. Karena masih banyak bentuk penyajian teh yang belum ku nikmati dan ku maknai. Aku tak se-mahir Dee, bahkan masih jauh di bawahnya. Aku hanya satu diantara sejuta orang yang bermimpi menjadi penulis handal seperti beliau. Hari ini...aku sedang mencari makna dari sosok karakter "suka memerintah" yang dimiliki sebahagian orang. Terinspirasi dari kalimat perintah yang kubaca di sosial media, yang nadanya membuatku sedikit jengah.
"Suka memerintah"...meski kugali lebih dalam, tak kutemukan nilai positifnya. Karena setelah ditelusuri, pribadi "suka memerintah" ini lahir dari orang yang terbiasa dengan hidup serba dilayani. Dia terbiasa menjalani kehidupan dengan fasilitas yang sudah tersedia, dengan segala hal yang "tinggal pake" tanpa harus bersusah payah. Karakter "suka memerintah" biasanya lahir karena umur yang lebih tua, jabatan yang lebih tinggi, dan uang yang lebih banyak. Namun hal ini bagiku membuat mereka menjadi kurang peka terhadap yang selalu "diperintah". Bagi si mental "suka memerintah"...mudah saja minta dibuatkan ini itu, kesana kemari. Tapi terkadang dia lupa...bahwa yang disuruh juga punya kehidupan sendiri. Yang disuruh juga punya urusan sendiri, keinginan sendiri, dan diri sendiri yang juga harus diurusi. Bukankah...kita semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Memang benar...dan akan selalu menjadi benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tapi dalil ini tidak serta merta dijadikan alasan untuk memanfaatkan orang lain sejadi-jadinya hingga orang tersebut mendzalimi diri sendiri.
Aku mengenal beberapa orang seperti ini. Sebahagian besar lahir dari kebiasaan bergantung pada orang lain bahkan untuk hal paling simpel sekalipun. Meskipun menjadi manusia terbaik (bermanfaat) diinginkan semua individu...tetapi Allah juga melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri. Allah sudah menciptakan kita sebagai yang paling mulia, jadi tak perlu dihinakan dengan melakukan apapun yang diminta orang lain sampai lupa pada kepentingan diri sendiri. Itu sejuta makna yang kupetik dari sebagian ceramah Ust. Nouman Ali Khan. Bahkan dari situ, kutemukan makna sabar yang sesungguhnya.
Bayangkan saja...jika ada orang yang harus bolos dari pekerjaannya demi menuruti si tukang perintah untuk dilayani kepentingannya. Atau ada yang sampai harus jatuh sakit karena terus-menerus menuruti perintah tanpa sempat istirahat. Bahkan ada yang sampai menunda menikah karena menuruti kemauan orang lain untuk mengurusi ini itu yang sejatinya bukan tanggung jawabnya. Itu bentuk kedzaliman kejam yang tidak disadari oleh si tukang perintah.
Hidup itu pilihan...selalu adalah pilihan. Dulu saya pikir, menjadi orang yang selalu disuruh-suruh itu mencerminkan pribadi yang baik. Tapi mengapa kini saya berpikir bahwa itu adalah tindakan bodoh. Menuruti perintah untuk hal-hal tertentu mungkin baik, tapi tidak dalam segala hal. Saya pernah mendengar bahwa, manusia terbaik adalah yang mampu memposisikan dirinya sebagai orang lain ketika bertindak atau mengambil keputusan. Mungkin ini bisa menjadi 'tips' untuk si "suka memerintah". Sebelum menyuruh...posisikan diri anda sebagai yang disuruh. Apakah dia sedang lelah, sedang sakit, sedang pusing dengan sesuatu, atau sedang merencanakan sesuatu. Sehingga kita menjadi lebih peka dan lebih bijak. Setidaknya...jika hal itu bisa kita lakukan sendiri, lakukan saja. Allah tidak akan memberi suatu masalah, pekerjaan, atau tanggung jawab yang tidak bisa kita lakukan.
Bahasan ini sudah begitu jauh nampaknya dari Filosofi Teh. Tapi anggap saja judul itu sebagai pembuka, menarik perhatian barangkali.
Karena hidup ini pilihan, maka kupilih untuk tidak jadi 'tukang perintah' dan tidak jadi manusia bodoh yang seenaknya diperintah. Kalau untuk membuat secangkir teh...kita semua bisa kan tanpa menyuruh orang lain.
Di akhir senja...menjelang isya...
SDj
