Hujan Berbeda di Langit yang sama

Kalau asalnya dari langit yang sama, tentu saja hujannya akan sama. Seperti itu teorinya. Tapi bagiku, hujan kali ini berbeda. Berbeda dengan hujan saat aku di bawah langit di kota itu. Kota yang memberiku sejuta alasan untuk berada di sana. Di kota itu Allah mengajariku makna kehidupan yang sesungguhnya, melunturkan ke egoisan ku satu-persatu, melelehkan kesombongan yang mengeras di hatiku. Di kota itu aku diajarkan bahwa tidak semua hal terjadi sesuai dengan kenginan kita. dan di kota itu untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. bukan cinta monyet atau sebatas kekaguman. Tapi cinta sesungguhnya yang sempat meyakinkan aku untuk akhirnya membuka pintu hati yang selama ini kututup rapat.

Hujan di kota itu pernah membuatku menangis, karena harus menenteng payung di saat tanganku terbebani dengan perlengkapan praktikum. Membuatku menangis karena mengikuti kuliah di kelas dengan kaos kaki yang basah. Membuatku menangis karena harus melewati banjir untuk bisa sampai di tempat tujuan. dan...hujan yang sama membuatku menangis, karena kesejukannya justru membuat aku mengingat semua masa lalu yang menyedihkan itu.

Hujan di kota itu juga pernah menggoreskan tawa. Saat aku hujan-hujanan di tepian pantai seusai kuliah karena ingin melepas penat. Tak peduli meski setelah itu aku harus ke tempat kerja. Hujan di kota itu pernah membuatku tertawa saat di bonceng di atas sepeda motor, basah kuyup melawan hujan deras. Tak peduli meski semua yang kulalui menatap prihatin. Hujan di kota itu pernah membuatku tertawa bersamanya, yang harus tertahan di tempatku berada karenanya. Dan suasana hujan di kota itu membawa kebahagiaan tersendiri, saat aku berkumpul dengan sahabat-sahabatku menikmati secangkir teh dan gorengan untuk menghangatkan suasana.

Semua sensasi itu justru makin membuatku menyukai hujan, membuat aku mengadahkan wajah ke langit dengan senyuman meski yang terjadi mungkin menyedihkan. Karena hujan di kota itu juga telah membuatku mengerti siapa sahabatku.

Sekarang...di tempat ini, kota lainnya, tempat aku dilahirkan, di langit yang sama
Aku merasakan hujan yang berbeda. Entah datangnya dini hari, saat petang maupun saat aku terlelap dalam tidur, rasanya tetap berbeda. Meskipun responku menyambutnya tetap sama, mengucapkan beribu doa dalam relung hati dengan penuh harap dari Sang Maha yang menurunkan hujan.
Tapi tidak ada tangis itu, karena aku tidak sedang berada di bawah rintiknya. Tidak ada tawa itu, karena semuanya telah tertinggal di kota itu, termasuk hatiku. Hujan berbeda yang mungkin terasa karena keputusan untuk melupakan semua yang telah berlalu meski berat. Hujan di kota itu selalu menyemangatiku untuk menjemput impian, sedang di kota ini...hujan hanya terasa sebagai penyejuk hati yang dikuatkan untuk menghadapi apa yang ada di depan mata saat ini, bukan untuk bermimpi.

Mimpi-mimpi itu tertahan dalam tetes hujan di kota itu, bernyanyi dalam anganku. Sejak kuputuskan untuk meninggalkan kota itu, kusimpan semuanya di sana. termasuk hujan yang selalu kuyakini diturunkan spesial untukku dari langit.

Masih di bawah langit yang sama, namun kini aku menikmati dan mensyukuri hujan yang berbeda. Berharap setiap tetesannya mampu menghapus segala angan yang tak mungkin kuraih. Membuatku melupakan semua yang harus dilupakan.
Hujan yang berbeda, mengingatkanku pada dirimu yang kucinta. Tapi dengan rasa yang tak sama.
Kini aku hanya mampu menatap langit saat hujan dengan wajah penuh harap, bahwa kelak aku bisa merasakan lagi sensasi hujan di kota itu.

Terima Kasih untuk Hujan hari ini Yaa Allah

SDj







Popular posts from this blog

Through The Rain

Filosofi Teh

Histeris