Pasukan Klinik Part III (telat posting)
Setelah kegiatan rutinitas visite, analisa kasus, dan tulis
menulis status, pasukan klinik itu kini berpindah haluan ke bagian manajemen
apotek. Masih di lokasi yang sama. Kelompok kedua yang bertukar tempat dengan
kelompokku seolah memberikan senyuman terlebar saat melihat kami terpenjara di
depo dan apotek tempat mereka sebelumnya bertengger. Awalnya aku berfikir, apa
yang perlu dirisaukan. Secara, bagian tersulit sudah pernah dilewati sebelumnya.
Tapi ternyata, situasinya beda. Ya..setiap bagian punya
cerita tersendiri yang tidak ada samanya dengan bagian lain. Kali ini, kami
menempati bagian sesuai dengan urutan jadwal yang dibagikan. Dan bedanya dengan
klinik adalah, kita tidak bisa selalu berdua. Bahkan lebih sering kami harus
berjuang seorang diri melawan segala bentuk perlakuan, situasi, tatapan “alien”
seperti sebelumnya dan tentunya ada bagian yang dinamakan “dinas malam”.
Hari pertama…masih biasa saja. yang dapat depo atau apotek
sunyi paling-paling hanya berkata..”mengantuk ka’….bosan bah….tidak tau apa mau
dikerja…” sedangkan yang kebagian apotek rame berkata sebaliknya. “Deh..capekku
panggil pasien….deh banyaknya resep…” dan semua itu sudah sangat lumrah.
Kecuali untuk si bumil kak charly, tentu saja perut buncitnya yang sudah
memasuki bulan ke Sembilan itu mendapat perlakuan khusus. Jadi, mau di apotek
sepi ataupun ramai, dia tetap merdeka dan selalu paling awal duduk di kantin
rumah sakit.
Tetapi ada kejadian kecil atau moment-moment tertentu yang
membuat ada saja bahan yang bisa diceritakan saat tiba waktu diskusi di
instalasi…tempat bersatunya kami.
Dimulai dari ceritaku…
Aku paling antusias melakukan segala kegiatan yang sifatnya
praktek seperti ini. Saking antusiasnya, aku datang lebih awal dari jam masuk
yang ditentukan. Dan alhasil, aku harus menunggu dengan berjongkok di depan
apotek ICU karena sampai jam 9 pagi, petugasnya belum datang. Semua mata
keluarga pasien yang menunggu menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit
kumengerti. Mungkin bingung dengan warna jas kami yang tidak putih seperti
dokter. “saya memang bukan dokter pak..bu…” gumamku dalam hati membalas tatapan
mereka. Dan begitulah seterusnya. Meskipun aku sudah tahu petugas di setiap
bagian akan datang terlambat, aku tetap on time. Paling tidak aku bisa
menunjukkan pada orang lain bahwa anak farmasi itu selalu disiplin, karena
segalanya harus dimulai dari diri sendiri.
Tempat ter-aneh, terpenat, dan ter bingung harus melakukan
apa adalah COT yaitu salah satu depo obat yang ada di dekat ruang operasi. Isinya
sebahagian besar adalah alat kesehatan dan obat-obat yang digunakan di ruang
operasi tentunya. Baru masuk ke dalam saja rasanya sudah penat. Yang Nampak
hanya orang-orang dengan pakaian operasi. Warna pakaiannya beda-beda hingga aku
tidak tahu yang mana perawat dan yang mana dokter. Tentu saja, tidak ada
apoteker di sana kecuali yang ada di ruangan depo itu. Yang aneh dari ruangan
itu adalah semua yang masuk ke dalam untuk mengambil alkes atau sekedar
mencatat sesuatu memanggilku dengan sapaan “Kak”….padahal sangat jelas kulihat
nama yang ada di seragam mereka, dokter yang sudah residen atau sedang
pendidikan spesialis. Jelas saja mereka lebih tua. Dan ketika sudah
berkali-kali kudengar sapaan itu, aku hanya bisa berteriak dalam hati
“woiii…umurku masih 24 (kala itu)…ndak liat apa saya pake jas pendidikan
apoteker…fiuh..”
Tapi kemudian teriakan dalam hati itu redam saat tak lama
berselang seorang dokter yang habis melakukan operasi, dengan tanpa rasa
bersalah memegang tumor sebesar kepala manusia di tangan kirinya yang
terbungkus handscoen dan mengarahkannya ke hadapanku sambil berkata..”alcohol
ta duluee..” sontak…mataku berkunang-kunang. Tapi Alhamdulillah gak pake
pingsan. Mungkin karena alasan ini, sampai-sampai temanku dwi menggunakan latar
belakang horror pada slide power pointnya yang memaparkan tentang depo COT ini,
slide dengan warna hitam dan ornament tetesan darah merah pekat. Pembimbing hanya
bisa bilang “seramnya itu slidemu..”
Lain lagi ceritanya di apotek RIA (Rawat inap atas). Sudah
tempatnya sepi, asisten apotekernya juga pendiam. Bicara seperlunya, tanpa
basa-basi atau sekedar menanyakan sesuatu kepadaku yang belum mengerti prosedur
di situ. Tapi kesunyian itu berubah saat seorang residen spesialis mata datang
tergopoh-gopoh ke dalam apotek. Wajahnya beraksen cina dengan kacamata dan
postur tubuh yang tinggi kurus. Dia yang baru masuk dengan peluh keringat di
dahinya langsung berbicara kepadaku seolah-olah aku ini sahabat karibnya.
“ihh…astaga, salah tulis ka tadi di KIO. Semestinya saya
resepkan itu alkes yang harus dipake untuk operasinya itu Tn. X, baru saya
lupa..” sambil menatapku lamat-lamat.
Aku yang tidak mengerti dengan semua ini hanya memandang
lurus ke arahnya, bingung, dan speechless.
“aa..hmm..tulis mi ki saja dok di KIO nya. Kan bisa ji
ditambahkan. Kapan kah di operasi??” akhirnya aku bisa mengungkapkan sesuatu.
“besok pi…itumi makanya buru-buru ka kesini..saya tulis mi
nah”, sambil berjalan ke samping kiriku dan mengambil sendiri KIO itu.
Aku berusaha menahan tawa untuk tidak membuatnya tersingung.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan. Bukankah operasinya baru besok dan
KIO nya bisa diisi kapan saja. tapi percuma juga saya tertawa, tidak ada yang
bisa di ajak ketawa di ruangan ini. Dan..dokter panik itupun pergi meninggalkan
apotek dengan sebuah senyum lega dan masih dengan perlakuan yang sama….ckckckckck.
*Dinas malam
Kalau sebahagian besar orang memilih untuk tidak pada tugas
dinas malam, aku sebaliknya. Moment dinas malam lah yang paling
kutunggu-tunggu. Aku merasa ada tantangan tersendiri di tugas melelahkan itu
selain menahan kantuk. Dan…jreng..jreng…aku kebagian dinas malam sampai pagi di
apotek IRD alias UGD. Tanpa perlu saya jelaskan, semua orang sudah pasti
mengerti bagaimana situasi di sana. Dan lagi-lagi, aku seorang diri plus
partner kerja para pegawai yang dua-duanya adalah lelaki. Jadi paling cantik
diriku. Tidak banyak yang bisa dikerjakan, tapi selalu ada keramaian. Mulai
dari coAs yang masuk keluar mengambil alkes dan cairan. Residen dan perawat pun
sama. Mulai dari yang sudah pegawai tetap sampai yang status magang atau PKL
sepertiku.
Malam itu saat aku berjaga, yang keluar masuk apotek kinclong-kinclong
semua. Utamanya para dokter residen. Untuk mengatasi rasa kantuk dan
kebingungan seorang diri, saya pun meng-update status di akun facebook.
“Menjelang tengah malam…banyak yang sube’…”
Sube’ adalah singkatan dari subhannallah, istilah singkat yang dipelopori
oleh kak itta’ untuk menerangkan sosok cowok cakep. Dan untuk menyamarkan
status, saya gunakan itu. Alhasil, kak itta’ juga orang pertama yang
mengomentari statusku.
“Suit..suit..sari. salam nah sama residen2 cakep..”
Aku menepok jidat. Kini status tersamarkan diketahui oleh seluruh teman
di dunia mayaku.
Subuh…saat adzan berkumandang, aku bersemangat minta ijin
untuk shalat di mesjid RS, agak jauh dari UGD. Lumayan.. jalan kaki sedikit
untuk meluruskan punggung yang terasa nyeri akibat tertidur di meja apotek
semalam. Ternyata aku tidak berhasil menahan kantuk. Untunglah ada keluarga
pasien menebus obat saat dini hari yang begitu semangat mengetuk kaca depan
meja tempatku tertidur sehingga seluruh kantuk itu lenyap seketika.
Jujur..aku sedikit penakut dengan hal-hal gaib, utamanya
tentang cerita hantu di rumah sakit. Tapi UGD bukanlah tempat yang perlu
ditakuti. Sepanjang koridornya berjejer keluarga pasien yang tidur dan duduk
menunggu. Hanya koridor sepanjang ICCU, apotek gakin dan jalan menuju mesjid
yang sedikit menyeramkan karena sunyi. Tapi tidak membuatku lantas lari
terbirit-birit. Aku bahkan sempat melambaikan tangan pada dwi yang sedang
melayani pasien di apotek gakin. Di subuh begini dia tetap tampil rapi dan
percaya diri dengan jasnya. Itu yang
Nampak di penglihatanku.
Sepulang dari mesjid, aku bertemu fuad. Ternyata dia dinas
malam juga.
“jaga dimana ko onta??..”, sapaanku untuk dia sebagai teman seperjuangan
sejak dahulu kala
“di apotek RIB. Ngana dang??”, bertanya padaku dengan bahasa asalnya
“di UGD. Ko lewat mana ke mesjid??Ndak sy liat ko.”
“oohh..tadi saya jalan dari instalasi.” Dengan nada santai
“bikin apa ko disana??”
“buang hajat di WC nya. Kau ndak merasa tadi ada yang panggil-panggil
ko??”masih dengan nada santai
“maksudnya?? “
“tadi waktu di dalam WC lampunya remang-remang, baru ko tau mi di sana
kosong. Jadi teriak-teriak ka sebut nama kalian satu-satu.”
“apa gunanya coba??”
“supaya kalian juga merasakan betapa takutnya saya disana sendiri.”
“siapa suruh juga ke sana”
“memangnya ada WC lain untuk kita Saridonnn..”
“wkwkwkwkwkwk..”,
to be continue