Like a Spongebob and Patrick
Suatu malam di sebuah kota kecil.......
Keadaan carut marut kala itu. Safar sibuk dengan handphonenya, menerima dan membalas sms entah dari mana. Mulai dari soal pekerjaan hingga urusan comblang-mencomblangi dengan sahabatnya di makassar.  Sang murabbi melayangk
an pandangan ke arahnya sambil berkata 
“fokus akhi!”
Dengan sedikit perasaan malu yang masih tersimpan diantara over pe-de nya, dia tersenyum simpul sambil memasukkan benda kecil itu ke dalam tasnya. Tarbiyah kembali berlangsung khusyuk dengan pesan-pesan moral yang menyejukkan.
Usai acara pamit-pamitan, Safar merangkul pundak Pule’…
”pul, lapar ka..!”
“pergi ko makan !” spontan pule’
“temani dulue cari makan…!”
“Ayo mi, naik motor ki??”
“Naik mobil saja…itue mobilnya kakak dipinjam, biar keren ki kelihatan berdua”.
“kau yang minta tapi, malu-malu ka saya”
“ok dan…” dengan aksen palu yang dipaksakan.
Dengan posisi duduk manis dihadapan seorang yang diseganinya, Safar menyampaikan maksudnya dengan wajah yang dibuat sedikit memelas.
“ Kak, afwan…bisa ka’ pinjam mobil ta’..???”
“Mau kemana akhi???”
“Mau pergi temani pule’ cari makan. Kasian kodong.”
Dari kejahuan si Pule’ menatap penuh curiga. Dalam hati terbesit sedikit prasangka buruk melihat mimik Safar yang sedikit aneh. Dan memang..prasangka itu benar adanya.
“jangan terlalu lama yah akhi, saya juga harus pulang ini sebelum jam 9”
“ iye kak..insya Allah habis makan langsung balik. Syukran kak”
Dengan sigap Safar meraih kunci mobil dari genggaman orang itu. Wajah sumringah diperlihatkannya pada pule’ yang sejak tadi menunggu di depan pintu.
“ayo mi pul…kita beraksi..”
“Apa ko bilang sama kakak sampe dikasi pinjam ko??”
“biasaaa…kujual lagi namamu.”
“kau di’…!!!!!”

Sepanjang jalan lengang. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintasi sepanjang jalan itu. Kedua lelaki itu kini tengah menikmati perjalanan dengan mobil pinjaman, sambil memilih-milih kemana harus mengisi perutnya yang keroncongan.
Akhirnya pilihan jatuh pada salah satu rumah makan cepat saji satu-satunya di kota itu. Tanpa berlama-lama, mereka langsung mengambil posisi di tempat yang paling strategis dan memesan menu favorite.  Dengan lahap, keduanya menghabiskan makanannya seketika. Maklum, dalam keadaan yang sudah sangat lapar, apapun akan terasa enak.
Meskipun sudah selesai dengan menu makan malamnya, keduanya lantas tidak langsung beranjak dari kursinya. Masih tetap pada posisi masing-masing berbagi cerita satu sama lain. Keduanya memang sahabat karib, tapi kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bisa bertemu. Jarak tempat tinggal mereka pun terbilang cukup jauh sehingga tak pernah ada waktu untuk pergi bersama. Hanya moment tarbiyah seperti inilah yang dapat dimanfaatkan untuk diskusi masa depan ala mereka berdua. Itupun harus dilakukan dengan cara menjauh dari forum. Secara, mereka akan mendapat komentar pedas jika yang mereka gosipkan terdengar oleh teman kelompok tarbiyah.
Pule’ menatap jam yang melingkar di tangannya, lalu kemudian terkesiap saat menyadari mereka terlalu asik bercerita dan lupa waktu.
“weee…mau mi jam 9. Sekira mau pulang mi yang punya mobil sebelum jam 9.”
“astagfirullah..iyo. nyak den de’ mati ma saya pul.”
“ayo mi cepat pulang.”
“tunggu dulu..kubayar dulu makanan ta’.” Sambil sibuk merogoh saku jeansnya.
Kini, keterkejutan Safar bertambah lagi saat menyadari sesuatu.
“Pul…lupa ka’ bawa dompet. Ada uangmu situ, pinjam dulue.”
“Hah???? Ndak bawa ka juga uang. Karna kau tadi langsung ajak pergi. Ndak sempat ma ambil tas ku. Tidak ada sama sekali kah uang ko bawa???”
Safar lalu kembali merogoh saku sebelahnya. Ditemukan selembar uang dua puluh ribu, selembar uang lima ribu, dan selembar uang seribu. Totalnya, dua puluh enam ribu rupiah.
“ini ji yang saya punya pule’. Cukup ji kira-kira kah???”
“mari kita berdoa saja semoga cukup. Ndak mungkin toh kita berdua tinggal cuci piring.”
“iyo…bismillah.” Safar memberanikan diri berdiri lebih dulu dan berjalan mendahului pule’ menuju ke meja kasir.
“berapa mbak..??” masih dengan gaya sok seolah-olah tidak sedang kekurangan uang.
Pule’ yang berdiri dibelakangnya seolah menahan nafas menanti si kasir mengucapkan jumlah bilangannya sambil berdoa “Ya Allah..plis, jangan membuat kami malu.”
“Dua Puluh Empat Ribu pak..”
“Alhamdulillah..” spontan pule’ berucap.
Sedangkan safar hanya berucap dalam hati karena malu jika ketahuan sama kasir. Biasanya, orang-orang rada gengsi menerima kembalian yang sisa 1000 rupiah. Tapi keadaan memaksa safar tegar berdiri menunggu kembalian yang sangat berharga baginya saat ini.
Mereka pun keluar dari rumah makan dengan perasaan lega.
“dehhh..hampir mi ki cuci piring pul. Untung bukan ji yang mahal tadi dipesan di’..”
“itumi lain kali sebelum makan, cek dulu ada uang atau tidak.”
“nyantai mi pul, Allah itu selalu bersama orang-orang kere dan perantau kayak kita ini.”
“Kau ji tu yang perantau, kalau saya kampungku ji.”
“iyo di’..tapi kan ndak malu-maluin ji ki. Inie masih ada sisa 2 ribu rupiah. Masih bisa beli teh gelas dua ini.” Sambil menunjukkan dua lembar uang seribu ke wajah pule’
Tiba-tiba seorang bapak menghampiri mereka sebelum keduanya membuka pintu mobil.
“dek…bayar uang parkir, 2 ribu.”
Dengan sedikit perasaan tidak ikhlas, safar akhirnya menyerahkan sisa uang yang tadi dia bangga-banggakan dihadapan sahabatnya itu. Sedangkan pule’ langsung membuka pintu mobil dan menunduk menahan tawa.
Mobil itu akhirnya melaju meninggalkan lapangan parkir, menyisakan kisah lucu yang membuat dua orang sahabat itu tak berhenti tertawa.
“deh..apes  ta ini pul. Barusannya seumur hidup pulang tanpa sepeser pun uang saya pegang.”
“iyo…berdosa ko itu sama saya, karna ko bawa-bawa tadi namaku sebagai alasanmu pinjam mobil. Padahal, kau yang mau.”
“kalau saya berdosa sama kau pul, kenapa kau juga ikut mengalami kemaluan ini.”
“saya tidak mengalami sebenarnya, hanya diberi kesempatan untuk menyaksikan pembalasan dosamu….wkwkwkwk..”

Di tengah jalan pulang, tiba-tiba handphone safar berdering. dengan santai, tangan kirinya ,meraih handphone di saku celana, dan tangan satunya lagi tetap memegang setir. 
"Halo..Assalamu alaikum....iye kak, iyeeee??? oh...iye-iye. wa'alaikumsalam", Safar kemudian menutup telepon dengan wajah panik.
"Pul..belum pi berakhir penderitaan ta’.”
“Apa maksudmu safar???”
“ko tau siapa barusan nelpon....kakak yang punya mobil. dia minta tolong, titip belikan martabak sama terang bulan."
"Hah...kenapa ko bilang iye saja, na tidak ada mi uang ta inie...", si Pule' makin panik
"bisanya itu kubilang begitu, jelas-jelas kita ijin pinjam mobil untuk pergi makan. ndak sopan ta' itu menolak."
"Jadi dan???????"
Mobil itu kini berhenti. Kedua sahabat itu terdiam pada posisi masing-masing memikirkan jalan keluar untuk masalah yang tak pernah terduga sebelumnya. lalu tiba-tiba Pule' memperbaiki posisi duduknya dan memberikan solusi.
“begini saja, di depan sana ada pejual martabak dan terang bulan. Kebetulan temanku itu. Kita ngutang mi dulu sama dia. jadi, ambil makanannya, besok dibayar. bagaimana???"
“deh…pul, dimana ditaro ini muka kasian. Memalukannya diri ta ini, naik mobil keren baru ngutang gorengan. Aaaarrrggghhhh…..mimpi apa ka semalam iniiiii..!!!!!???”
“saya yang malu safar bukan kau, karna temanku ini yang jual gorengan. Makanya, lain kali ndak usah mi sok-sok keren bawa mobil, baru kere ji. Untung tidak ada akhwat ditemani. Kalo ada, dehh…ditolak dua kali ma lagi.”
 Walaupun dengan perasaan sangat malu, keduanya terpaksa mengambil jalan akhir itu. Beruntung si penjual gorengan adalah sosok yang ramah, rendah diri, dan berbudi baik. Sehingga yang tampak di wajahnya saat pule’ menyampaikan maksudnya hanyalah mimik prihatin dan segera memberikan martabak dan terang bulan sesuai dengan pesanan sang pemilik mobil. setelah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya sambil mengangguk kepada si penjual, keduanya kemudian berlalu meninggalkan kedai itu dan kembali ke mobil. Tidak ada lagi tawa terbahak-bahak. Yang ada hanya senyum simpul menyadari kebodohan hari itu. Itulah jadinya bila sesuatu diawali dengan sebuah kebohongan manis meskipun mungkin niatnya hanya bercanda. Tapi, diluar semua itu, ada satu hal positif yang dipetik oleh safar. Betapa bersyukurnya dia memiliki seorang sahabat yang begitu setia menemaninya melalui segala kemalangan sampai ikut menahan rasa malu akibat ulahnya. Orang lain bisa saja pergi meninggalkannya atau tidak akan mau menanggung malu untuk membantu temannya.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sang pemilik mobil. Kunci mobil diberikan beserta martabak dan terang bulang sesuai pesanan. Si pemilik mobil pun tersenyum riang menyambutnya sambil menyodorkan uang 50 ribu rupiah sebagai ganti harga makanan tersebut. tentu saja Safar menolak, seolah-olah kejadian tragis tadi tidak pernah terjadi.
"Jangan mi kak....anggap saja ongkos bensin mobil ta' mi tu karena saya pinjam tanpa isi bensin."
"wah...syukran yah dek..!!", balasnya
keduanya pun pamit dan mengambil motor di halaman rumah tersebut. Pule yang membawa motornya, harus membonceng Safar dan mengantarnya sampai ke rumahnya.
sebelum berpisah, safar merangkul bahu pule’ sambil berucap..”thanks nah pul. Mau ko bermalu-malu ria dengan saya malam ini. Tidak akan pernah kulupa ini jasa-jasamu.”
“iya dong…harus itu!! Tapi ingat ko besok bayar utangmu sama itu temanku nah. Nanti nadatangi ka di RS menagih. Tidak kumaafkan mi ko itu.”
“iyo ji…insyaAllah kubayar besok.”
Rasa terima kasih itu tidak hanya safar sampaikan secara langsung kepada sahabat sejatinya itu, dia bahkan mengupdate status di FB tentang pengalamannya itu disertai ungkapan terima kasih yang tulus untuk pule’.
Bila harus diibaratkan…mereka adalah spongebob dan patrick. Spongebob (safar) yang kadang kala bertindak ceroboh dan tanpa berfikir panjang membuat dirinya malu sendiri, dan Patrick (pule’) akan setia menemaninya melalui segala akibat tindakan ceroboh itu tanpa memikirkan dirinya sendiri dan dengan polos hanya berkata “aku adalah sahabatmu spongebob..dan aku akan selalu menemanimu…hehehehe”

^___^
Sari Dj









Popular posts from this blog

Through The Rain

Filosofi Teh

Histeris