Ikhlas Berprofesi
Pernah suatu ketika, di saat aku tiba di apotek tempatku bekerja, ada setumpuk penyesalan mengrogoti benak dan hatiku. bukan menyesal datang ke tempat itu, tapi menyesal mengapa aku harus jadi apoteker. Coba lihat bagaimana sekitarku memperlakukanku. orang-orang datang dan pergi membeli obat hanya sambil lalu. Di saat konsumen membeli obat untuk indikasi yang tidak sesuai dan aku memberikan penjelasan dan saran, mereka hanya berkata.."Ah..tidak apa-apa, sudah biasa diminum" atau "dokter bilang beli saja lagi obatnya kalau masih sakit", dan lebih parah lagi saat mereka bilang.."Bapak itu memberikannya waktu saya merasa sakit yang sama" sambil menunjuk pak manager apotek yang juga ikut melayani konsumen setiap harinya. dan coba tebak, lulusan apa beliau?? bukan sekolah farmasi. sama sekali tidak memiliki latar pendidikan yang berhubungan dengan obat. Tapi lihat, betapa konsumen dan pasien lebih percaya pada beliau ketimbang diriku yang menghabiskan waktu bertahun-tahun kuliah. Coba saja pikir betapa kecewanya aku dengan profesi yang kumiliki.
Bagi pasien, kesembuhan adalah yang utama. apapun yang terjadi nanti, berapapun obat yang harus mereka minum, bahaya atau tidak, bagi mereka tetap yang penting sembuh dulu. yang lain urusan belakangan. Tapi bagi aku dan para farmasis lainnya, dalam memberikan obat dipertimbangkan banyak aspek. Bahasa resminya Rasionalitas. hal ini yang terkadang tidak dimiliki oleh sebahagian besar pemilik apotek yang notabene bukan orang farmasi. Tidak semua pasien atau yang datang ke apotek itu butuh obat. Terkadang mereka hanya butuh teman curhat atau penjelasan tentang apa yang sedang dideritanya. Kalaupun harus diberikan obat, kita tentunya harus melihat efek samping obat tersebut, apakah tidak mengganggu rutinitas pasien, apakah tidak berinteraksi dengan makanan tertentu dan apakah mereka benar-benar perlu obat itu. Jika harus mendapatkan terapi obat lebih dari satu macam, seyogyanya diberikan penjelasan untuk tidak dimunum bersamaan, itu sudah menjadi kewajiban kami. Tapi lagi-lagi....mereka hanya mengangguk dan bilang.."Iya, saya tahu, sudah biasa minum. Lagipula dokternya bilang tidak apa-apa minum bersamaan.."
Sungguh...tidak ada gunanya aku di sini.
Aku baru dianggap "berguna" jika seorang sales obat datang ke apotek dan berkata pada pak manager.."Pak, minta SP (Surat Pesanan) nya yah !". Surat Pesanan dituliskan pihak apotek jika kita memesan obat di suplier dan pihak suplier baru akan melayani pemesanan jika surat itu ada. Dan salah satu syarat yang harus ada di Surat Pesanan itu adalah tanda tangan Apoteker penanggung jawab beserta nomor surat ijin penugasan. barulah saat itu kehadiranku seolah-olah sangat dibutuhkan. Bahkan pak manager dengan sangat sopannya akan bilang.."Tolong mbak Sari, SP nya ditanda tangani !", dan ada bonus penghormatan lagi dari para sales karena orderan itu mempengaruhi jumlah fee yang mereka terima dari perusahaan itu. selebihnya...nothing. Bahkan ketika ada yang benar-benar berkonsultasi kepadaku, tidak pernah ada balasan berupa uang konsultasi. beda dengan dokter, yang cuap-cuap sedikit saja, maka pasien dengan begitu ikhlasnya mengeluarkan minimal 50 ribu rupiah untuk membayar jasa konsultasinya. Apoteker??nothing. Jangankan uang konsultasi, gaji pokok kami pun masih dipasang harga minim oleh para pemilik sarana apotek.
Lalu..apa gunanya profesiku ini selain hanya sebuah tanda tangan???, padahal untuk menjadi apoteker dibutuhkan waktu kuliah yang lama, karena harus lanjut kuliah lagi setelah selesai S1. Tidak berbeda dengan dokter. Susahnya pun sama. Biaya?? jangan tanya. tentu saja tidak sedikit. Pengorbanan dan air mata....tidak bisa kuingat lagi berapa banyak yang kuhabiskan. Demi gelar dan ijazah tersebut. Dan kenyataannya...tidak relevan dengan yang kudapatkan sekarang. Jauh sekali.
sampai suatu ketika, seorang ibu, yang sudah berusia senja yang sudah pantas di panggil nenek, datang berkunjung ke apotek. Membawa bungkusan obat yang isinya sudah habis. dia meminta diberikan obat yang sama. ternyata sang nenek menderita hipertensi.
"Nak...tolong berikan obat ini..", sambil menyodorkan bungkusannya
"Oh iya bu..sudah berapa lama minum obat ini??", tanyaku mengawali diskusi
"ah..baru ji nak, dulu saya minum pas naik tensiku saja. sekarang naik lagi, jadi saya mau beli."
"Oh..tekanan darahnya berapa ibu???"
"180 nak, per-nya saya lupa.."
"Ini obat kita' minum pada saat naik saja, baru kita hentikan saat turun mi???"
"Iya nak..."
"Oh...kurang tepat cara ta' minum ibu. begini....", akupun menjelaskan panjang lebar.
Sejatinya, obat hipertensi atau tepatnya terapi pasien yang mengalami hipertensi (tekanan darah di atas normal), harus dilakukan secara kontinue. dengan kata lain, obat tetap harus dikonsumsi meskipun tekanan darah sudah turun. Pemakaian obat baru bisa dihentikan setelah tekanan darah benar-benar stabil atau tidak mengalami naik turun lagi dan statis di angka yang sama tanpa keluhan dalam jangka waktu yang cukup lama. Selama masih ada yang namanya naik turun atau menurun sedikit-sedikit, obat tetap harus dikonsumsi. adapun yang harus dipantau adalah dosis, aturan minum, dan tentunya tekanan darah pasien. Yang perlu dilakukan hanyalah penurunan dosis dan pengurangan frekuensi minum. bukan penghentian total. Dan tentunya, bukan hanya penjelasan mengenai obat yang harus diberikan. pasien hipertensi pun harus selalu diingatkan untuk menjaga pola makan dengan mengurangi asupan garam.
Aku menjelaskan pada sang nenek secara lengkap dengan bahasa dan cara penjelasan yang bisa dipahami oleh orang awam, agar yang disampaikan bisa dipahami. si Nenek manggut-manggut, dan bilang..."oh...begitu ternyata di'. baru saya tahu itu nak."
aku hanya membalas dengan senyuman.
kemudian setelah dia membayar obatnya dan beranjak ingin pergi, dia memegang tanganku sambil berkata..."Terima Kasih banyak yah nak. untung saya beli obat di sini dan ketemu sama kita', saya jadi tau mi cara pengobatan yang benar. betul-betul sangat menolong...terima kasih yah nak !,"
si nenek mengucapkannya kalimat itu di hadapanku dengan penuh ketulusan yang terlukis di sorot matanya saat menatapku. seketika nuraniku meluruh, berdecak terharu menyambut untaian terima kasih yang bahkan diulang dua kali.
setelah si nenek pergi, aku seolah di tampar. seakan ada yang bicara padaku. Hei,,lihat, kehadiranmu sungguh berarti. mungkin bukan bagi semua orang, tapi bagi seorang nenek yang tidak mengerti apa-apa dan sedang sakit. lihat betapa tulusnya dia menyampaikan terima kasih itu.
Seandainya aku bukan apoteker, tentu saja aku tidak bisa menjelaskan semua itu. Sekarang jika ditanya, setimpal kah uang konsultasi dengan ucapan terima kasih tulus itu?? tentu saja tidak. Ucapan tulus itu jauh lebih berharga. Mampu membangkitkan semangatku untuk terus bekerja meski hasil tak sesuai harapan. Karena sungguh....ketulusan itu tidak dimiliki oleh semua orang. Hanya orang-orang yang nuraninya peka yang mempu berucap tulus seperti itu. Sekarang, aku tidak boleh kalah oleh si nenek. Akupun harus tulus. tepatnya ikhlas menjalani profesi ini. Dibayar atau tidak, dihargai atau tidak, dicuekin pasien atau tidak, aku harus tetap ikhlas berprofesi apoteker. aku harus tetap memberikan informasi obat dan melakukan semua yang menjadi tugas dan tanggung jawabku setulus-tulusnya. Biarlah Allah saja yang membalas segala bentuk ketidak adilan itu. Biarlah rejeki ini dicukupkan olehNya. Toh..setiap hari aku masih bisa bernafas, makan, minum, dan tersenyum tanpa rasa sakit.
Ikhlas berprofesi....harus dimiliki. bukan hanya olehku. tapi semua orang yang bukan apoteker sekalipun. Bukankah tidak ada yang tidak berguna di dunia ini. Allah sudah mengatur sedemikian rupa. pasti ada maksud dan tujuannya termasuk mengapa aku ditakdirkan untuk jadi apoteker....
Welcome June.....