Pesantren....aku mau

Pesantren...atau lebih umum dikatakan "pondok pesantren", pernah memberi image buruk dimataku. Di masa silam (jaman masih muda *sekarang sih belum tua2 amat), aku menjadikan pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan atau sekolah yang tidak ingin kumasuki (pasti yang baca langsung bilang "terlalu sadis caramu..."). Bagaimana tidak, hampir setiap minggu, kakak saya yang sekolah dipesantren pulang ke rumah dengan laporan yang sama, barang-barangnya hilang entah kemana mulai dari baju yang dijemur, sendal, buku, dan semua-muanya..:/
itu baru salah satu alasan saya tidak suka dengan pesantren. masih ada salah tiganya ;)
Alasan kedua...banyak lulusan pesantren yang saya kenal, sama sekali tidak menunjukkan sikap atau cerminan alumni pesantren yang bisa saya jadikan panutan. malah sebahagian besar diantaranya menanggalkan jilbab. Keluar dari pesantren bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya...bebas...lepas...(kata iwa K)
Alasan ketiga...mungkin karena disiplin yang diterapkan di pesantren cukup ketat, sehingga banyak santrinya yang bolos sampai manjat pagar demi bisa keluar sejenak melihat indahnya panorama di luar pesantren. (maklum, rumah saya dikampung dekat dengan pondok pesantren, bagian putra lagi...ckckck). dan saya tidak ingin terkekang seperti itu. Pengen bebas….
atas dasar semua itu, saya mendeklarasikan dengan tegas pada mama dan bapak waktu saya kelas 5 SD..
"Nanti kalo saya sudah lulus SD...tidak mau ka' masuk pesantren titik" (sok dewasa)
beberapa tahun kemudian..... (sinetron mode on)
Saat saya hijrah ke makassar, setelah lulus SMU, saya dihadapkan pada realita anak kuliah yang merantau demi mencari ilmu. Realita dimana kita harus terlepas dari rangkulan orang tua dan suasana rumah untuk menjadi sosok mandiri dan tegar menghadapi berbagai rintangan untuk menjadi seorang sarjana. sangat berat. terutama di awal-awal kuliah. apalagi saya mengambil jurusan farmasi, diploma III pula, yang baru semester pertama langsung disuruh meracik obat (kayak mau teriak setiap masuk laboratorium farmasetika)...>.<
Nah, saat itulah saya menemukan sebuah pelajaran kehidupan yang berharga. saat tugas membuat jurnal memaksa saya untuk nginap di kost-an teman yang dekat dari kampus (biar besoknya ndak telat ikut respon) maklum jarak rumah dengan kampus ujung pukul ujung (bajigau-BTP). nginap bareng teman itu menghadirkan suasana yang berbeda. kumpul bareng, saling bantu bikin tugas dan tentu saja ada acara makan bareng. bahkan kadang kala, harus makan sepiring berdua (karena piring di kost teman memang cuma satu :) ) atau makan nasi dengan lauk gorengan (tempe dan tahu isi) karena kiriman uang dari kampung belum datang...:'(
dari situ saya berfikir, berarti alangkah menyenangkannya orang yang tinggal di pondok pesantren. tiap hari..makan, tidur, belajar, sampai ibadah bareng-bareng sama teman. pasti selalu ada canda tawa, curhat-curhatan dan gosip

Pola pemikiran seketika bergeser. yang tadinya hanya sebatas dalam sebuah kotak, menjadi terbuka membentuk berbagai bangun ruang yang lain (sok matematika). kalau dulu kadar ke-tidaksuka-an (bukan kebencian) saya dengan pesantren bernilai 10, kini menurun menjadi 7.  Dan makin menurun lagi setelah saya mengikuti beberapa kegiatan kajian keagamaan. Shock saat menyadari bahwa begitu banyak ilmu dan pemahaman agama yang sama sekali tidak saya ketahui. Banyak hukum-hukum dan aturan yang semestinya saya tahu sebagai seorang muslimah. Dan beruntunglah mereka yang bersekolah di madrasah dan pesantren. Mereka pasti mendapatkan semua pelajaran itu. Tidak penting mereka memahami dan menerapkannya, yang penting tahu dulu. Kan ndak lucu kalau kita ngaku muslim tapi ndak tahu aturan agama kita sendiri. Di sekolah umum, saya hanya mendapatkan pelajaran agama yang umum-umum saja. Setelah menyadari semua itu, timbullah keinginan yang begitu besar untuk bisa bersekolah di pondok pesantren walaupun sudah tidak mungkin lagi. Sudah lulus kuliah gitu. Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan adalah mengkaji ilmu-ilmu itu ditempat yang memungkinkan untuk aku ada di situ. Oh iya, satu lagi. Keinginan itu juga makin bertambah setelah membaca novel Negeri 5 Menara. Novel yang dipinjamkan salah seorang teman, yang dibaca disela-sela kesibukan menjalani PKP apotek jaman kuliah profesi kemaren.
Kesimpulan dari semuanya….boleh jadi apa yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi kita dan begitupun sebaliknya karena yang paling tahu hanya Allah swt…:D

Popular posts from this blog

Through The Rain

Filosofi Teh

Histeris