surat untuk bapak

at home, 31 Juli 2011

assalamu alaikum wr.wb..
anhyongaseo.....appa....
apa kabarmu disana? pastinya dirimu sedang berjalan-jalan di surga terindah milikNya
menatapku dari atas sana dengan tertawa. tertawa melihat kekonyolanku. tertawa melihat badanku yang makin gemuk saja. dan tertawa melihat gaya stressku sebelum ujian sidang.
appa...dua hari sebelum ujian penentuan itu, aku sempat berfikir, mungkin aku akan meneteskan air mata di depan para penguji dan teman-temanku karena aku selalu teringat tentangmu appa.
dulu....kau selalu ingin aku menjadi seorang dokter. bahkan kau selalu ingin mencantumkan gelar "dr" di depan nama indah yang kau anugrahkan untukku 24 tahun yang lalu. sejalan dengan cita-citaku. aku selalu berusaha untuk semua itu, mewujudkan keinginanmu. tapi ternyata Allah berkehendak lain. semua jalan hidup yang harus kulalui sangat bertolak belakang dengan yang dulu ada di benakku. benar-benar telah di atur dengan sempurna oleh yang maha sempurna. hingga detik ini aku masih tidak percaya dengan apa yang telah kulalui selama ini. seperti semuanya hanyalah mimpi. tapi ketika kutatap wajah mama yang semakin menua, aku baru tersadar, ini semua adalah nyata. aku sudah melewati hampir 14 tahun tanpamu. memperjuangkan apa yang masih bisa diperjuangkan bersama anak-anakmu yang lain.
meskipun kau tidak pernah hadir dalam setiap akhir perjuanganku, sejak aku lulus SD, SMP, SMA, DIII, S1, bahkan nanti saat prosesi penyumpahan gelar "apoteker"ku, aku tetap bahagia dan bersyukur. dulu, aku selalu bertanya dalam hati, mengapa kau tega meninggalkanku secepat itu. tapi kemudian aku menyadari, ini semua adalah yang terbaik untukku. kepergianmu telah mengajarkan banyak hal dalam hidupku. setidaknya aku bisa menjadi tegar menghadapi seluruh lika-liku hidup ini. dan dengan kepergianmu, aku jadi lebih mengenal Allah, lebih dekat denganNya.......
maaf appa....karena ternyata aku tidak bisa menjadi seorang dokter seperti yang kau inginkan. aku hanya bisa menjadi seorang apoteker. aku harap, kau cukup bangga dengan semua itu. meskipun aku tidak pernah menjadi siswa terbaik di setiap akhir perjuanganku. kau tau appa, aku pernah beradu pendapat dengan seorang dokter di apotek hanya karena Paracetamol...hehehe. kalau dulu aku ingin jadi dokter, sekarang.....aku jadi musuh bebuyutan dokter. tapi memang dia yang salah kok, masa' paracetamol dibilang beda sama acetaminophen....jelas saja, saya berapi-api. peace ^^V
tapi tenang saja appa....insyaAllah, aku akan menjadi apoteker yang baik. aku tak akan pernah membuatmu kecewa karena ada namamu di depan dua gelarku.
dan satu hal lagi....di setiap ujian-ujian sidangku (sudah 3 kali), aku tidak pernah menangis appa. aku selalu berhasil tegar meskipun di olok-olok sama penguji. bahkan aku tidak menangis saat seorang dosen memarahiku untuk sebuah tanda tangan di depan banyak pegawai rektorat kampus..huff...
meskipun aku melalui semua itu tanpamu, aku tetap akan berterima kasih. karena aku bisa tegar dengan semua ini karena aku selalu ingat padamu dan yakin bahwa kau selalu menatapku dari atas sana.
besok....ramadhan menjemput. moment yang selalu mengingatkan aku akan kegigihanmu dulu mengajariku untuk berpuasa, menghadiahkanku sesuatu jika puasaku full, dan menemaniku sholat tarawih meskipun mataku sudah hampir terpejam.
kirimkan doa untukku appa.....agar aku tetap menjadi hamba Allah yang beriman dan sholehah...


wassalam.....
bogosipho appa....


anakmu...........

Comments

Popular posts from this blog

Through The Rain

Filosofi Teh

Histeris