Profesi tak Dianggap
Ketika diminta bercerita tentang situasi dimana kita membanggakan sesuatu tapi sebaliknya orang lain meremehkan...maka saya tidak butuh waktu lama untuk mengingat atau berpikir. Satu-satunya hal yang selalu membawa saya dalam situasi tersebut adalah kebanggaan terhadap profesi saya sebagai apoteker.
Tentang ini....saya sudah sering menuliskannya. Bahkan di postingan blog yang lalu sudah sering saya bahas tentang bagaimana orang-orang menganggap remeh profesi ini. Jangankan orang lain...keluarga sendiri pun menilai sama. Perjuangan untuk meraih gelar apoteker...hanya kami para Apoteker yang tahu bagaimana beratnya. Kuliah di farmasi bertahun-tahun, bahkan tanggal merah..hari minggu...hari libur...tetap datang ke kampus. Praktikum pagi-pagi buta dengan kantung mata yang semakin menghitam setiap harinya. Tugas pendahuluan praktikum yang tak pernah kurang dari 3 lembar double folio bergaris. Laporan pasca praktikum yang tebalnya hampir menyamai skripsi, yang kadang dipantul berkali-kali oleh asisten lab. Belum lagi dengan teori yang luar biasa banyak dan susah. Menghafal bahasa latin, istilah-istilah resep, nama lain tumbuhan dan kandungan zat berkhasiatnya, rumus struktur kimia yang kehilangan satu atom C saja bisa mengubah nasib seseorang, perhitungan bahan racikan membuat obat, perhitungan dosis, dan sebagainya. Jadwal tidur yang tak pernah memenuhi syarat kesehatan. Kadang-kadang tidak tidur. Tidurnya....di atas angkot dalam perjalanan pulang ke rumah (kalau ada yang mau marah-marah karena kami tidur di atas angkot...sungguh terlalu )
Apoteker harus menguasai penyakit yang dipelajari oleh mahasiswa kedokteran. Apoteker harus mendalami ilmu biologi yang dipelajari mahasiswa jurusan biologi. Kimia dan Fisika pun sama. dan setelah lulus....pasien justru lebih percaya menanyakan obat kepada dokter ketimbang kami.
Saat saya bangga bisa meluruskan kesalahan waktu minum obat pasien, kesalahan resep....saya justru dihujat oleh sesama tenaga kesehatan yang tidak paham soal kompetensinya sendiri. Di saat beberapa pasien mulai mengerti dan mempercayakan konsultasi obatnya kepada saya....orang tua saya sendiri justru menganggap saya pengganguran karena hanya bekerja di apotek. Penjual obat katanya...
Bahkan saking gemesnya...teman sejawat saya pernah mengubah format 'meme' yang sedang jadi viral di sosial media...."Jangan remehkan Apoteker yang bekerja di apotek, karena kalau dia salah kasih obat...kelar hidup loe"
Tapi sudahlah....soal diremehkan, saya anggap sebagai bagian dari perjuangan menuju sukses. Agama saya juga mengajarkan untuk tidak bangga atau sombong terhadap apapun yang dititipkan di dunia ini termasuk jabatan dan profesi. Namanya juga titipan....buat apa dibanggakan. Intinya....saya hanya harus berusaha agar amanah profesi ini bisa bermanfaat untuk orang banyak.
#6thdayKampusFiksiWrittingChallenge
Tentang ini....saya sudah sering menuliskannya. Bahkan di postingan blog yang lalu sudah sering saya bahas tentang bagaimana orang-orang menganggap remeh profesi ini. Jangankan orang lain...keluarga sendiri pun menilai sama. Perjuangan untuk meraih gelar apoteker...hanya kami para Apoteker yang tahu bagaimana beratnya. Kuliah di farmasi bertahun-tahun, bahkan tanggal merah..hari minggu...hari libur...tetap datang ke kampus. Praktikum pagi-pagi buta dengan kantung mata yang semakin menghitam setiap harinya. Tugas pendahuluan praktikum yang tak pernah kurang dari 3 lembar double folio bergaris. Laporan pasca praktikum yang tebalnya hampir menyamai skripsi, yang kadang dipantul berkali-kali oleh asisten lab. Belum lagi dengan teori yang luar biasa banyak dan susah. Menghafal bahasa latin, istilah-istilah resep, nama lain tumbuhan dan kandungan zat berkhasiatnya, rumus struktur kimia yang kehilangan satu atom C saja bisa mengubah nasib seseorang, perhitungan bahan racikan membuat obat, perhitungan dosis, dan sebagainya. Jadwal tidur yang tak pernah memenuhi syarat kesehatan. Kadang-kadang tidak tidur. Tidurnya....di atas angkot dalam perjalanan pulang ke rumah (kalau ada yang mau marah-marah karena kami tidur di atas angkot...sungguh terlalu )
Apoteker harus menguasai penyakit yang dipelajari oleh mahasiswa kedokteran. Apoteker harus mendalami ilmu biologi yang dipelajari mahasiswa jurusan biologi. Kimia dan Fisika pun sama. dan setelah lulus....pasien justru lebih percaya menanyakan obat kepada dokter ketimbang kami.
Saat saya bangga bisa meluruskan kesalahan waktu minum obat pasien, kesalahan resep....saya justru dihujat oleh sesama tenaga kesehatan yang tidak paham soal kompetensinya sendiri. Di saat beberapa pasien mulai mengerti dan mempercayakan konsultasi obatnya kepada saya....orang tua saya sendiri justru menganggap saya pengganguran karena hanya bekerja di apotek. Penjual obat katanya...
Bahkan saking gemesnya...teman sejawat saya pernah mengubah format 'meme' yang sedang jadi viral di sosial media...."Jangan remehkan Apoteker yang bekerja di apotek, karena kalau dia salah kasih obat...kelar hidup loe"
Tapi sudahlah....soal diremehkan, saya anggap sebagai bagian dari perjuangan menuju sukses. Agama saya juga mengajarkan untuk tidak bangga atau sombong terhadap apapun yang dititipkan di dunia ini termasuk jabatan dan profesi. Namanya juga titipan....buat apa dibanggakan. Intinya....saya hanya harus berusaha agar amanah profesi ini bisa bermanfaat untuk orang banyak.
#6thdayKampusFiksiWrittingChallenge