DIA
Dia....satu kata yang bisa membuat orang jadi baper. Coba saja tanyakan pada sahabatmu yang jomblo.
Kata 'Dia' bahkan sangat populer saat dijadikan sebagai sebuah judul lagu. Masih ingat bukan dengan Dia-nya Afgan yang bahkan diulang sampai 3 kali, yang sangat populer di telinga para ABG dan bahkan dijadikan salah satu lagu iklan produk kecantikan dengan sedikit perubahan lirik. Dia-nya Sammy Simorangkir juga tak kalah populer. Lagu ini bahkan jadi original soundtrack salah satu sinetron yang syutingnya di Paris. Tahun lalu....ada 'Dia' satu lagi yang juga berhasil memikat ribuan peminat musik, yaitu 'Dia' milik Anji. Saking populernya...Mas Agus Yudhoyono bahkan menyanyikan lagu tersebut dengan suara pas-pas-an sebagai kado ulang tahun istrinya (tidak ada hubungannya sama pilkada yah...saya bukan warga Jakarta).
Tentang dia....yang pernah menempati salah satu ruang dihatiku (cie...). Pertama kali mengenalnya, jauh sebelum ketiga lagu 'Dia' populer tersebut liris di pasaran. Waktu itu...saya sedang bekerja paruh waktu di salah satu apotek swasta. Kuliah sambil kerja tepatnya. Karena harus kuliah di pagi hari, maka saya baru masuk apotek sore hari hingga malam. Nah..di suatu malam itulah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan dia. Perawakannya tinggi, wajahnya tidak tampan, kulitnya indonesia (dibaca kuning langsat). Sikapnya dingin (kalau bilang cool...nanti dikira kulkas). Saya menyimpulkan demikian karena tak ada basa-basi maupun senyum saat dia membeli obat.
"minta E******-C nya satu strip!"...sambil menyodorkan uang pas sesuai harga obatnya.
Lalu dia pergi...berlalu begitu saja.
Aku hanya menatap punggungnya dari belakang...sambil berucap betapa coolnya dia di dalam hati. Tapi entah kenapa...terbesit sedikit rasa kagum padanya. Padahal...itu baru pertama kalinya saya bertemu. Mungkin karena penampilannya kala itu-yang mengenakan jacket yang kerahnya menutupi leher- mirip gaya Hyun Bin di secret garden..(cuman gaya berpakaian saja yah...tampang jauh beda).
Mungkin benar apa yang bang Tere Liye bilang...bahwa ada orang yang jatuh cinta pada orang lain yang bahkan berbicara dengannya tidak pernah sekalipun. Apakah itu terjadi padaku? tentu saja tidak. kuakui aku mudah kagum pada siapapun di saat pertama kali bertemu. Tapi untuk jatuh cinta...butuh waktu lama untuk mencerna dan memastikannya. Makanya tetap jomblo *ups
Hanya itu kisah pertemuan pertama kalinya dengan dia. Yah...cerita singkat tak bermakna yang akhirnya berlanjut menjadi potongan-potongan drama. Karena setelah itu, ada cerita kedua...ketiga...dan bahkan ada kisah dimana dia melamar saya melalui sebuah pesan singkat. Kalian terkejut? saya jauh lebih terkejut kala itu. Tapi lamarannya datang di waktu diriku belum siap menghabiskan sisa hidup dengan orang lain. Bukan hanya itu sebenarnya, banyak alasan yang bahkan padanya aku tak bisa bercerita. Lamaran kutolak dan sebagian temanku menyimpulkan betapa sombongnya saya.
Kini...tentang dia....aku tidak tahu sama sekali. Hilang jejak tepatnya. Kami terpisah jauh, tanpa cerita. Menjalani hidup masing-masing tepatnya.
#4thdayKampusFiksiWrittingChallenge
Kata 'Dia' bahkan sangat populer saat dijadikan sebagai sebuah judul lagu. Masih ingat bukan dengan Dia-nya Afgan yang bahkan diulang sampai 3 kali, yang sangat populer di telinga para ABG dan bahkan dijadikan salah satu lagu iklan produk kecantikan dengan sedikit perubahan lirik. Dia-nya Sammy Simorangkir juga tak kalah populer. Lagu ini bahkan jadi original soundtrack salah satu sinetron yang syutingnya di Paris. Tahun lalu....ada 'Dia' satu lagi yang juga berhasil memikat ribuan peminat musik, yaitu 'Dia' milik Anji. Saking populernya...Mas Agus Yudhoyono bahkan menyanyikan lagu tersebut dengan suara pas-pas-an sebagai kado ulang tahun istrinya (tidak ada hubungannya sama pilkada yah...saya bukan warga Jakarta).
Tentang dia....yang pernah menempati salah satu ruang dihatiku (cie...). Pertama kali mengenalnya, jauh sebelum ketiga lagu 'Dia' populer tersebut liris di pasaran. Waktu itu...saya sedang bekerja paruh waktu di salah satu apotek swasta. Kuliah sambil kerja tepatnya. Karena harus kuliah di pagi hari, maka saya baru masuk apotek sore hari hingga malam. Nah..di suatu malam itulah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan dia. Perawakannya tinggi, wajahnya tidak tampan, kulitnya indonesia (dibaca kuning langsat). Sikapnya dingin (kalau bilang cool...nanti dikira kulkas). Saya menyimpulkan demikian karena tak ada basa-basi maupun senyum saat dia membeli obat.
"minta E******-C nya satu strip!"...sambil menyodorkan uang pas sesuai harga obatnya.
Lalu dia pergi...berlalu begitu saja.
Aku hanya menatap punggungnya dari belakang...sambil berucap betapa coolnya dia di dalam hati. Tapi entah kenapa...terbesit sedikit rasa kagum padanya. Padahal...itu baru pertama kalinya saya bertemu. Mungkin karena penampilannya kala itu-yang mengenakan jacket yang kerahnya menutupi leher- mirip gaya Hyun Bin di secret garden..(cuman gaya berpakaian saja yah...tampang jauh beda).
Mungkin benar apa yang bang Tere Liye bilang...bahwa ada orang yang jatuh cinta pada orang lain yang bahkan berbicara dengannya tidak pernah sekalipun. Apakah itu terjadi padaku? tentu saja tidak. kuakui aku mudah kagum pada siapapun di saat pertama kali bertemu. Tapi untuk jatuh cinta...butuh waktu lama untuk mencerna dan memastikannya. Makanya tetap jomblo *ups
Hanya itu kisah pertemuan pertama kalinya dengan dia. Yah...cerita singkat tak bermakna yang akhirnya berlanjut menjadi potongan-potongan drama. Karena setelah itu, ada cerita kedua...ketiga...dan bahkan ada kisah dimana dia melamar saya melalui sebuah pesan singkat. Kalian terkejut? saya jauh lebih terkejut kala itu. Tapi lamarannya datang di waktu diriku belum siap menghabiskan sisa hidup dengan orang lain. Bukan hanya itu sebenarnya, banyak alasan yang bahkan padanya aku tak bisa bercerita. Lamaran kutolak dan sebagian temanku menyimpulkan betapa sombongnya saya.
Kini...tentang dia....aku tidak tahu sama sekali. Hilang jejak tepatnya. Kami terpisah jauh, tanpa cerita. Menjalani hidup masing-masing tepatnya.
#4thdayKampusFiksiWrittingChallenge