Posts

Promise

Ada satu janji…..yang kulantunkan pada diri sendiri. Kuucapkan entah sudah berapa kali. Ratusan…ribuan…aku sudah tidak bisa menghitungnya. Pernah kutuliskan dalam lembaran resolusi tahun baru Hijriyah, di sebuah tarbiyah. Pernah kucoba .…tapi berhenti di tengah jalan. Pernah menghukum diri sendiri karena tidak bisa menepati. Janji yang realisasinya tak sederhana mengucapkannya. Apa janji itu…..berhenti menunda !. Yah…aku menyadari sepenuhnya bahwa aku adalah seorang Prokrastinator sejati sejak definisi kata itu kuketahui. Sempat terfikir…mungkin aku terlalu takut melangkah, sehingga aku menunda rencana besar. Mulai dari melanjutkan pendidikan, mengikuti lomba menulis, dan menikah. Semua kutunda karena sebuah ketakutan akan kegagalan. Namun ternyata, penyakit itu tak hanya berlaku untuk sebuah rencana besar. Hal-hal kecil…bahkan ikut ditunda. Dosa terbesar adalah menunda shalat…yang notabene hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Menunda beberapa pekerjaan penting karena hal-hal y...

Letter to Appa

Dear bapakku….. Sudah lama sekali….sudah bertahun-tahun. Aku sudah mulai lupa dengan wangi sabun mandi kesukaanmu. Sampai pada saat jalan-jalan ke supermarket dan melewati deretan sabun batangan. Aroma itu kembali membuatku rindu. Sudah lama sekali….aku shalat seorang diri di rumah. Karena tidak ada dirimu yang jadi imam. Kakak ? Ah…sekali-kali saja kalau mereka lagi insyaf. Sudah lama sekali…aku tidak makan roti lapis, dengan telur ‘mata sapi’ setengah matang di tengahnya yang diolesi madu ala dirimu. Pernah kubuat sendiri. Tapi…baru mencium aromanya…saya sudah baper duluan. Oh iya pak…baper itu singkatan dari bawa perasaan. Istilah anak jaman sekarang…hehe Pak…kau meninggalkanku dulu ketika aku masih kecil. Belum mengerti apa-apa. Bahkan belum paham tentang hakikat sebuah kematian. Tapi kau tahu…Allah memberiku anugerah luar biasa. Sebuah ingatan. Ingatan akan segala kebaikan yang pernah kau ajarkan padaku. Yah…diantara semua memori yang kulalui selama 11 tahun hidup bersama...

Fakta Diri

Tak kenal maka tak sayang.....Peribahasa lama namun tetap benar adanya hingga zaman berganti. Kadang kita tidak suka dengan seseorang karena belum tahu sifat aslinya. Kadang pula kita salah menilai hingga berdampak kita menjadi negative thinking. Begitupun sebaliknya. Banyak orang yang menilai salah tentang kepribadianku yang sesungguhnya. Pada umumnya tentu bukan orang terdekat. Meski ada juga beberapa diantaranya. Fakta tentang saya yang sering dinilai berlawanan oleh orang lain. 1. Selalu disangka anak pertama. Hampir sebahagian besar teman atau orang yang pertama kenal mengira saya adalah anak pertama. Padahal sebaliknya...saya adalah bungsu dari 7 bersaudara. Pernah ada yang bilang, anak bungsu itu manja. dan katanya saya tidak ada manjanya sama sekali. Yah...saya memang selalu berusaha untuk mandiri dalam segala hal. Mungkin karena sedari kecil memang dilatih untuk begitu. Ditambah dengan sikap cuek kakak-kakak yang enggan antar sana sini kalau saya ada perlu. Ja...

Through The Rain

Menapaki usia yang tidak muda lagi.......membuat saya merenung dan menghitung-hitung. Sudah berapa detik yang kulalui dalam hidup ini dan apa yang sudah kulakukan di setiap detik itu. Dalam perenungan itu, terkadang aku menyesali setiap detik yang kugunakan untuk menangis. Yah...aku menangis karena kegagalan. Aku menangis karena kebencian. Aku menangis karena kekecewaan. Tangisan yang tidak hanya setetes dua tetes air mata. Tangisan yang kadang berujung pada habisnya sekotak tissue berisi 500 helai. Mungkin bagi kalian, itu terlalu berlebihan. Aku pun merasa hal yang sama. Sempat terbesit dalam pikiran, mungkin aku menderita bipolar. Tapi tidak...Alhamdulillah, saya masih normal. Seandainya....setiap waktu yang kuhabiskan untuk menangis itu kugunakan untuk menulis. Mungkin kisah sedih yang tidak hanya terjadi di hari minggu bisa terangkum dalam sebuah novel. Sayangnya, saya terlalu membuang-buang waktu. Padahal, tangisan itu tidak bisa mengubah apapun. Tangisan itu tidak akan pernah ...

Profesi tak Dianggap

Ketika diminta bercerita tentang situasi dimana kita membanggakan sesuatu tapi sebaliknya orang lain meremehkan...maka saya tidak butuh waktu lama untuk mengingat atau berpikir. Satu-satunya hal yang selalu membawa saya dalam situasi tersebut adalah kebanggaan terhadap profesi saya sebagai apoteker. Tentang ini....saya sudah sering menuliskannya. Bahkan di postingan blog yang lalu sudah sering saya bahas tentang bagaimana orang-orang menganggap remeh profesi ini. Jangankan orang lain...keluarga sendiri pun menilai sama. Perjuangan untuk meraih gelar apoteker...hanya kami para Apoteker yang tahu bagaimana beratnya. Kuliah di farmasi bertahun-tahun, bahkan tanggal merah..hari minggu...hari libur...tetap datang ke kampus. Praktikum pagi-pagi buta dengan kantung mata yang semakin menghitam setiap harinya. Tugas pendahuluan praktikum yang tak pernah kurang dari 3 lembar double folio bergaris. Laporan pasca praktikum yang tebalnya hampir menyamai skripsi, yang kadang dipantul berkali-kali ...

Best Movies

Sama halnya dengan buku bacaan, setiap individu punya selera berbeda tentang film. Sebagian orang menyukai film komedi, sebagian lagi lebih suka genre horror. Bagi saya pribadi...semua genre bagus untuk ditonton selama ceritanya berkualitas dan memang layak untuk ditonton. Tapi jika diminta film terbaik...maka saya akan menjabarkan film-film yang kisahnya bernilai postif dan kualitas ceritanya jempolan. Pertama... "The Pursuit of Happiness" Saya yakin...bukan hanya saya seorang yang mengganggap film ini bagus dan sangat layak ditonton. Film  biografi yang diangkat dari kisah nyata seorang enterpreneur bernama Chris Gardner ini mengandung nilai motivasi yang tinggi. Makna ceritanya luar biasa. Saya bahkan sempat baper dan menangis saat scene pemeran utama terpaksa tidur di kamar mandi stasiun kereta bawah tanah bersama anaknya karena tidak punya tempat tinggal. Saya membayangkan...ketika berada di posisi si pemeran utama, mungkin saya akan putus asa. Berakhir dengan depresi...

DIA

Dia....satu kata yang bisa membuat orang jadi baper. Coba saja tanyakan pada sahabatmu yang jomblo. Kata 'Dia' bahkan sangat populer saat dijadikan sebagai sebuah judul lagu. Masih ingat bukan dengan Dia-nya Afgan yang bahkan diulang sampai 3 kali, yang sangat populer di telinga para ABG dan bahkan dijadikan salah satu lagu iklan produk kecantikan dengan sedikit perubahan lirik. Dia-nya Sammy Simorangkir juga tak kalah populer. Lagu ini bahkan jadi original soundtrack salah satu sinetron yang syutingnya di Paris. Tahun lalu....ada 'Dia' satu lagi yang juga berhasil memikat ribuan peminat musik, yaitu 'Dia' milik Anji. Saking populernya...Mas Agus Yudhoyono bahkan menyanyikan lagu tersebut dengan suara pas-pas-an sebagai kado ulang tahun istrinya (tidak ada hubungannya sama pilkada yah...saya bukan warga Jakarta). Tentang dia....yang pernah menempati salah satu ruang dihatiku (cie...). Pertama kali mengenalnya, jauh sebelum ketiga lagu 'Dia' populer te...